Senin, 03 Oktober 2011

Karebosi


LAPANGAN KAREBOSI. Timbul pertanyaan dalam benak saya, begitu hebatkah pengusaha yang menguasai Lapangan Karebosi ini. Tampaknya, Pemerintah Kota Makassar bersama unsur DPRD dapat dilumpuhkan. Mereka takluk dan bertekuk lutut di bawah keinginan pengusaha yang menguasai Lapangan Karebosi yang merupakan hak mutlak masyarakat sebagai sarana publik sejak nenek moyang orang Bugis-Makassar. (Foto: Asnawin)



Karebosi

Seorang lelaki paruh baya bernama Dg Gassing berkisah tentang Lapangan Karebosi. Lelaki itu mengaku, masa kecilnya sampai dewasa tinggal di Jl Buru, Makassar. Ketika bertemu dengan penulis saat mengantar anaknya berbelanja di Karebosi Link, lelaki itu menuturkan kisahnya tentang Lapangan Karebosi.

"Mulai dari masa kecil hingga memasuki usia dewasa, banyak waktuku kuhabiskan di lapangan ini bermain bola dan olah raga lainnya," ucapnya mengawali kisahnya.  

Mengenang kembali Lapangan Karebosi yang terletak di jantung kota Makassar, urai Dg Gassing dalam kisahnya, ketika masih berusia remaja sekitar awal tahun 1970-an, setiap sore, dia bersama teman-teman sebaya berbarengan berjalan kaki menuju Lapangan Karebosi dari Jl Buru atau di Kampung Jera'. Setiba di Karebosi, mereka sering bermain bola melawan anak-anak dari Kampung Renggang (Jl Gunung Lompobattang).

Selain anak Renggang, kelompok mereka juga biasa berhadapan dengan anak Kampung Baru dari Jl Somba Opu. Sekali-sekali juga mereka bertanding dengan anak-anak dari Ambon Camp dari Jl Gunung Nona. Kalau bermain bola, mereka sering mengkavling lapangan di sudut utara Karebosi, di samping Jl Jenderal Sudirman. Mereka bermain sampai puas tanpa ada yang pungut bayaran.

Kala itu, Lapangan Karebosi merupakan pusat latihan olah raga, mulai pagi hari Lapangan Karebosi ini sudah mulai berdenyut atas aktivitas warga kota. Ada murid sekolah yang dibawa gurunya untuk kegiatan mata pelajaran Penjas (pendidikan jasmani).

Bila sudah menjelang sore, Lapangan kebanggaan warga Makassar itu, mulai ramai dikunjungi dari kalangan anak-anak sampai orang tua melakukan kegiatan olah raga. Untuk seusia Dg Gassing cs, mereka lebih senang bermain bola. Semakin waktu sudah senja, tambah ramai pula orang berdatangan. Apalagi kalau kesebelasan PSM yang latihan. Berjubel warga menonton karena tidak dipungut biaya maupun bayar parkir.

Lapangan Karebosi ini, kata Dg Gassing, banyak melahirkan pemain sepak bola yang sangat hebat, bahkan ada yang menjadi idola dan kebanggaan warga kota ini dan masyarakat Sulawesi bahkan di seluruh Republik ini, yaitu pemain PSM yang bernama Ramang. Selain Ramang, masih banyak lagi pemain bola kelahiran Karebosi yang menjadi pemain PSSI seperti Ronny Pattinasarani, serta yang lain.

Di bagian Utara Lapangan ini ada pohon Beringin yang sangat rindang. Di bawah pohon itu sangat sejuk. Ada beberapa orang berjualan, termasuk penjual obat sering memanfaatkan tempat itu. Juga ada Patung Ramang, jagoan sepak bola yang menjadi idola yang sangat berjasa mengangkat nama baik Kota Makassar melalui PSMnya. Pohon rindang dan Patung Ramang itu sudah tergusur.

Sekarang Dg Gassing yang sekarang tinggal di daerah Takalar, merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya bila mengenang kembali Karebosi yang sudah berubah total menjadi lahan bisnis. Rasa-rasanya, setiap jengkal tanah di Lapangan Karebosi ini sudah menjadi lahan bisnis.

Betapa tidak, katanya, Karebosi ini sudah dipagar besi keliling dan diawasi petugas satpam. Rupanya fungsi pagar itu, untuk membangun lapangan parkir di dalamnya. Sebagai orang dari daerah merasa kaget setelah ditagih bayar parkir. Itulah sebabnya Dg Gassing mengatakan, "setiap jengkal tanah di Karebosi ini sudah dikomersilkan (dibisniskan)."

Sebagai orang yang merasa pernah menjadi bagian dari Lapangan Karebosi ini, Dg Gassing pernah menyempatkan waktu mengelilinginya sebelum masuk belanja di bawah perut bumi lapangan ini yang disebut Karebosi Link.

"Sungguh saya tercengang," tutur Dg Gassing, "karena pagar besi yang terpasang itu, bukan hanya sebatas lahan Lapangan Karebosi saja, tetapi menyeberang ke beren jalan di Jl Jenderal Sudirman dan Jl Kartini dikangkangi pagar. Apalagi Jl Jenderal Ahmad Yani, selokan besar (kanal) dicor beton di atasnya lalu dijadikan lahan parkir kendaraan pengunjung Karebosi Link dan MTC."

Timbul pertanyaan dalam benak saya, begitu hebatkah pengusaha yang menguasai Lapangan Karebosi ini. Tampaknya, Pemerintah Kota Makassar bersama unsur DPRD dapat dilumpuhkan. Mereka takluk dan bertekuk lutut di bawah keinginan pengusaha yang menguasai Lapangan Karebosi, yang merupakan hak mutlak masyarakat sebagai sarana publik sejak nenek moyang orang Bugis-Makassar. (--)

Keterangan:
-- Celoteh ini terbit di Tabloid LINTAS, Makassar, edisi 21 - September 2011

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya di blog Tabloid Lintas - Makassar.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes